Sunday, April 16, 2017

TUNJUK JALAN-KU....TUHAN

Kadang aku berteriak...
Entah engkau mendengar teriakanku atau tidak...
Karena engkau si Empunya hidup....Aku pun tak berani mengumpat dengan kata yang tak benar untuk sang khalik...
Hanya membisu dalam teriakan....

TUNJUK JALAN KU....TUHAN....
TUNJUK JALAN KU....TUHAN....
TUNJUK JALAN KU....TUHAN....

Berkali - kali berteriak hingga suaraku habis dan kerongkongan kering tak berair ludah.

Terdiam dan membisu dalam sunyinya kamar, aku pun mengumpat dalam doa. Kata demi kata kupanjatkan dalam doa, seiring renunganku dengan apa yang telah kuperbuat. Batin pun seakan mempunyai dilema pada pilihan hidup dan gejolak ego yang tersirat.

Disatu pilihan aku harus menurut apa kata orang tua, yang harus ini itu dan bla bla bla bla...
Tetapi ego dalam diri belum bisa menerima kenyataan dan penuh dengan penolakan tentang kondisi sekarang ini. Dan seakan masih yakin bahwa diriku ini mampu untuk bangkit melakukan impian - impian yang pernah tersirat.

GILA......KAMU GILA JOE....

Teriakku dalam nanar ke-egoisan, entah kenapa seakan dku pasrah akan kondisi. Tidak lincah seperti dahulu yang tak pernah mau berkata tidak dan selalu semangat, walaupun kadang tau jawabannya pasti gagal.

Dalam keheningan aku pun secara jujur pada kehidupan-ku, tentang semua yang dialami dan yang sedang dijalani maupun akan dijalani. Bahwa, aku mampu untuk semua ini akan tetapi diriku saja yang gegabah dengan semua proses.
Kesekian kali gagal dan gagal, seperti tak ada bosan aku lalui....
Dari kegagalan itu pula aku mampu berkata tidak dan mampu menyalahkan diri sendiri....
Serta mampu meng-kambing hitamkan diri sendiri akan kesalahan yang tersirat selama ini...

Aku pun mampu duduk berdoa, walau tangan ini masih tetap menulis. Entah apa yang aku tulis, aku pun tak tahu...
Dalam perasaan tertumpah pada ketukan - ketukan irama saat penulisan....
Bagaikan alunan musik kemarahan yang terluap akan diri sendiri...
Dari sini lah aku seakan ingin menampar diri...
Tanpa harus bertanya lagi....

TUNJUK JALAN KU, TUHAN....

Aku pun sudah tahu jalanku harus kemana...
Ke arah mana yang harus aku tuju...
Tempat mana yang aku tuju...
Waktu kapan aku bertepat disana...
Dan bla bla bla bla bla itu semua....

Aku pun mampu berteriak dalam doa ku....
Dan aku pun percaya TUHAN melindungi Hambanya...

teriak-ku "...AKU TAHU KEMANA AKU BERJALAN..."


by Johanest
20170416 / 02;34

Thursday, March 30, 2017

Lestarikan Budaya Cowongan



Cowongan adalah salah satu jenis ritual atau upacara minta hujan yang dilakukan oleh masyarakat di daerah Banyumas dan sekitarnya. Menurut kepercayaan masyarakat Banyumas, permintaan datangnya hujan melalui cowongan, dilakukan dengan bantuan bidadari, Dewi Sri yang merupakan dewi padi, lambang kemakmuran dan kesejahteraan. Datangnya hujan berarti datangnya rakhmat Illahi yang menjadi sumber hidup bagi seluruh makhluk bumi, termasuk manusia.


Kata cowongan yang berasal dari kata “cowong” ditambah akhiran “an” dalam bahasa Jawa Banyumasan dapat disejajarkan dengan kata perong, cemong, atau therok yang diartikan berlepotan di bagian wajah. Perong, cemong, dan therok lebih bersifat pasif (tidak sengaja). Sedangkan cowongan lebih bersifat aktif (disengaja). Jadi cowongan dapat diartikan sesuatu yang dengan sengaja dilakukan seseorang untuk menghias wajah. Wajah yang dimaksud adalah wajah irus yang dihias sedemikian rupa agar menyerupai manusia (boneka).

Salah satu padepokan yang masih memegang dan melestarikan budaya cowongan yaitu Padepokan Cowong Sewu yang dipimpin Titut Edi Purwanto atau lebih akrab dengan panggilan "Titut". Yang bertempat di daerah Desa Pangebatan, Kecamatan Karanglewas - Kab. Banyumas.

Beliau merasa prihatin melihat kebudayaan Banyumas yang semakin terkikis oleh globalisasi dan didorong oleh rasa kecintaannya terhadap kebudayaan Banyumas, maka beliau memutuskan untuk terjun dan mempelajari filosofi - filosofi kebudayaan Banyumas yang ada. Ada beberapa kesenian yang beliau mainkan, antara lain kesenian Begalan, Kuda lumping (ebeg), Cowongan, dan lain sebagainya.

Tidak sedikit cibiran yang datang dari kalangan masyarakat, terkait dengan kegiatan yang Titut geluti. Sebagian ada yang menganggap bahwa Titut adalah orang yang kafir, musyrik, dan sebagainya. Namun Titut sendiri menanggapi dengan positif dan memakluminya. Beliau berpandangan masyarakat sekarang sedang mengalami jaman cowong, dimana cowongan sendiri menggambarkan sesosok yang stylish namun pada bagian kepalanya kosong, tidak ada isinya. Mari lestarikan budaya Banyumas. //Johanest

Band Naff dan Kotak meriahkan Konser Hari jadi Banyumas 446

Banyumas - Jumat (24 Februari 2017) lalu, warga purwokerto diajak menikmati acara puncak Hari Jadi Banyumas 446 di GOR Satria Purwokerto. Dengan tajuk Konser Hari Jadi Banyumas 446, Pemda Banyumas menghadirkan dua band dari ibukota yaitu Band Naff dan Band KOTAK. Meski GOR Satria Purwokerto diguyur hujan antusias warga Purwokerto cukup diacungi jempol.


Band Naff sebagai band Ibukota yang membuka puncak acara Konser Hari Jadi Banyumas 446 membawakan beberapa lagu andalan, antara lain, Terendap Laraku, Bila Nanti Kau Milikku, Dosa Apa, Bila Aku Pulang dan beberapa lagu lain.


Terlihat penonton sangat menikmati tiap - tiap lagu yang dilantunkan oleh Arda vokalis ganteng Band ini. Dengan bahasa khas banyumasan vokalis Naff ini menyapa para penonton. Penampilan Naff ditutup dengan lagu andalan mereka "Akhirnya Kumenemukanmu". Para penonton terbius untuk ikut bernyanyi bersama dalam lagu tersebut.


Acara pun diteruskan dengan penampilan Band Kotak, Tantri dengan enerjik menyanyikan beberapa lagu andalan, seperti satu Indonesia, hilang, kosong tujuh, phobia, beraksi, haters, tendangan dari langit, masih ada, kecuali kamu dan beberapa lagu medley sebagai penutup Konser Hari Jadi Banyumas.


Ditengah acara, vokalis cantik asal tangerang ini mengajak Ibu Hj. Erna Husein untuk bernyanyi bersama yang berjudul "Pelan - Pelan Saja" untuk menghibur warga Purwokerto. Penampilan Cella sang Gitaris dan Basis cantik Cua pun menghiasi aksi panggung hingga usai acara Konser Hari Jadi Banyumas 446.


Tepat pukul 23.04 WIB acara pun ditutup dengan gemerlap kembang api yang menghiasi area GOR Satria Purwokerto.//Johanest

Thursday, August 25, 2016

GERAMNYA SANG PENCELA

Dari satu lingkar kehidupan
Tersirat akan riuhnya Kesedihan
Tanpa ada rasa tenggang akan sesama
Seakan ego memaksa jahat dalam pribadi

Terbata seolah pudar hati ini
Lemas tak ada kata dan rasa
Membisu dan membuta akan sekitar
Beringas untuk hancurkan norma

Terbelalak dalam kemurkaan
Sinis pun menghancurkan nurani
Sombong pun menjadi talenta pribadi
Pernik kenistaan pun terbentuk

Tuduh dan menuduh yang terlantun
Teriak seakan paling benar
Membakar rasa dalam ego,
Hancurkan sekitar demi kepentingan

Prasangka baik pun tergerus,
Tak ada baik dan benar
Mencela pun hanya sebuah kiasan dan kebiasaan
Sebatas kebanggaan akan kedudukan semata

Seakan geram untuk menghancurkan :
Melemaskan, menindas dan mematikan
Semua yang menghalangi
Geramnya sang pencela

Tegar seakan paling benar
Tangguh seakan paling kuat
Mencela seakan dekat dengan malaikat
Demi sebuah kekuasaan nurani pun hancur

Tuesday, February 2, 2016

My Imagination

Improve with a smartphone, low light and low gear not you makes bad a creative.

Monday, July 20, 2015

Pantai Pandawa

Banyak sekali pengunjung lokal maupun mancanegara yang berdatangan ke pantai ini, untuk menikmati suasana indah yang disajikan. Dengan tarif cukup murah anda bisa menikmati suasana pantai pandawa.
Tarif kendaraan :
1.  Roda Dua       : Rp 2.000,-
2.  Roda Empat  :  Rp 5.000,-

Tarif Pengunjung :
1.  Pengunjung Lokal  : Rp. 4.000,-
2.  Pengunjung Luar/Manca : Rp. 10.000,-

Saturday, February 28, 2015

Anak Pantai

Sering kita dengar sebutan "Anak Pantai" di kalangan masyarakat. Itu membuat saya cukup tertarik dengan banyak pertanyaan, apa itu anak pantai...?
Akhirnya, saya bisa melihat langsung yang sering disebut - sebut anak pantai. Ternyata, sekumpulan anak yang suka bermain di area pantai yang melakukan kegiatan seperti surfing, berlatih juggling, dan melakukan kegiatan di pantai lainnya. 
Pada saat itu, beberapa saya melihat ada anak pantai sedang melakukan aksi surfing di tengah gulungan ombak. Cukup menakjubkan aksinya, membuat adrenalin kita seakan naik ingin ikut melakukan aksi-aksi tersebut. 
Melihat dari kejauhan cukup menarik sekali dilihat dari balik gulungan ombak-ombak besar yang mengitari mereka. Tetapi yang membuat kita cukup kagum. Mereka rata-rata masih sepantaran anak SMP atau SMA. Kaget dalam hati, dan cukup WOW...!!! melihat aksi mereka...bak peselancar profesional mereka memainkan papan luncur diatas ombak. 


LUKIS BAMBU - Khas Desa Tenganan

Lukis Bambu (2015), kita bisa jumpai proses pembuatan secara langsung para pengrajin lukis bambu di Desa Adat Tenganan, Bali. 
Dengan hanya memberikan uang sukarela untuk masuk ke area yang cukup luas di bagian utara pulau bali ini, kita bisa merasakan susasana kental khas bali. Dan bisa melihat secara langsung proses pembuatan Lukis Bambu yang biasa kita jumpai di pasaran. Tetapi dengan kekhasan dan corak yang begitu melekat sekali dengan budaya tenganan, kita melihat goresan - goresan tangan para pengrajin lukis sembari menikmati suasana yang begitu akrab. 

"Berapa bapak jual hasil kerajinan ini..?" tanya saya saat memulai pembicaraan singkat dengan salah seorang pengrajin lukis bambu. 

"Tergantung besar kecil dan rumitnya gambar, mas..." tutur bapak pengrajin tersebut. 
"Kalau yang rumit ini (sambil menunjukkan contoh karyanya) biasa untuk wisatawan lokal kami jual 150 ribu itu juga bisa ditambahi nama yang beli....dan untuk wisatawan luar kami jual 400 - 600 ribu..." tutur bapak pengrajin yang bernama Tutman dengan logat khas balinya. 
"Untuk bahannya apa saja itu, Pak..?" tanya saya ingin tahu.
"Untuk bahan pewarna ini, memakai kemiri (sambil menunjukkan tempat yang berisi kemiri).." lanjut bapak tutman melanjutkan pekerjaannya.
Banyak sekali yang bisa kita lihat dari kegiatan - kegiatan masyarakat desa Adat Tenganan. Mulai dari pembuatan kain songket asli bali, pembuatan lukis bambu, dan beberapa kegiatan yang cukup unik bisa kita lihat di desa Adat ini. //Johanest

TARI REJANG - Desa Tenganan, Bali

Tenganan (5 Februari 2015), Desa Adat Tenganan pada saat lalu melaksanakan prosesi adat yang biasa dilakukan oleh masyarakat adat bali. Beberapa yang menarik para perekam gambar entah dari media atau para hobi yaitu Tarian yang dilakukan oleh gadis-gadis belia yang biasa disebut dengan Tari Rejang. Dengan secara bergantian mereka menari dengan mengikuti alunan musik yang dilantunkan. 
Tari Rejang itu sendiri, sebuah tarian kesenian rakyat/suku Bali yang ditampilkan secara khusus oleh perempuan dan untuk perempuan. Gerak-gerik tari ini sangat sederhana namun progresif dan lincah. Biasanya pagelaran tari Rejang diselenggarakan di pura pada waktu berlangsungnya suatu upacara adat atau upacara keagamaan Hindu Dharma.
Tarian ini dilakukan/ditarikan oleh penari-penari perempuan Bali dengan penuh rasa hidmat, penuh rasa pengabdian kepada Dewa-Dewi Hindu dan penuh penjiwaan. Para penarinya mengenakan pakaian upacara yang meriah dengan banyak dekorasi-dekorasi, menari dengan berbaris melingkari halaman pura atau pelinggih yang kadang kala dilakukan dengan berpegang-pegangan tangan.

Dengan beberapa upacara-upacara yang dilakukan sangat begitu kental dengan suasana khas bali. 
Menawan dan sangat menarik untuk merekam moment penting seperti ini. Menurut beberapa masyarakat asli Desa Tenganan upacara seperti ini biasa dilaksanakan setiap satu tahun sekali. //Johanest








Road Race 2014 (GOR Satria Purwokerto), terlihat beberapa pembalab menunjukkan aksinya pada setiap putaran di tikungan - tikungan tajam. Demi sebuah kemenangan mereka beraksi dengan sangat sengitnya, walau hujan para pembalap tetap menunjukkan aksinya. //Johanest

Malam PASKAH 2014


Malam Paskah 2014, Suasana khidmat dirasakan sekali sesaat lilin Paskah dinyalakan. Dengan suasana gelap yang hanya diterangi nyala lilin tersebut, terlihat beberapa Muda Mudi Katolik Gereja St. Yoseph Purwokerto mengikuti upacara perayaan lilin Paskah.

TABLO Kisah Sengsara Yesus (PASKAH 2014)

TABLO, deretan kisah sengsara Yesus pada saat paskah 2014 yang digelar secara khidmat oleh Umat Katedral Kristus Raja Purwokerto. Kisah cerita yang diperankan oleh MUDIKA OMKER, cukup membuat beberapa umat meneteskan air mata saat melihat adegan demi adegan kisah sengsara yesus sebelum disalibkan, wafat dan dimakamkan.//Johanest

Strombolin Lava Pijar Gunung Slamet


Strombolin lava pijar Gunung Slamet, pada tahun 2014. Dampak dari lontaran strombolin lava pijar, mengakibatkan daerah vegetasi di atas puncak menjadi lebar dan adanya penggundulan yang cukup signifikan. Tetapi, masyarakat setempat meyakini bahwa semburan lava pijar tersebut tidak akan mengakibatkan dampak yang cukup berbahaya seperti gunung - gunung berapi lainnya. Argumen tersebut di sanggah dengan adanya warga kawasan kalipagu yang tetap beraktivitas seperti biasa walau gunung slamet menunjukkan aktivitasnya.